Kisah Pengusaha dan Nelayan (Versi Alternatif)

Ada banyak versi dari kisah ini, kamu mungkin pernah membacanya. Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali membuatnya, tapi sepertinya ada yang salah dari kisah ini. Seandainya saja pengarang memasukkan unsur ilahiah dalam ceritanya, maka sang nelayan tentunya tidak akan egois memikirkan dirinya sendiri. Sementara di sisi lain, sang pengusaha juga melakukan kesalahan dengan menempatkan kesenangan dunia sebagai tujuan utama. Ah, mungkin kamu belum pernah baca ceritanya. Hehehe.

fisherman

Alkisah, seorang pengusaha sedang duduk santai di pantai ketika melihat sebuah perahu kayu dengan seorang nelayan di atasnya berlabuh. Di dalam perahu itu ada beberapa ikan tuna yang lumayan besar. Sang pengusaha memuji nelayan itu atas tangkapannya yang bagus dan dan bertanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menangkapnya.

“Cuma sebentar kok,” jawab si nelayan.

“Kenapa kau tidak melaut lebih lama supaya dapat ikan lebih banyak?”

“Nggaklah. Aku sudah cukup punya ikan untuk kebutuhan keluarga.

“Tapi apa yang kaulakukan jika tidak pergi melaut?”

“Aku bersantai, mancing, bermain dengan anak, menemani istri, jalan-jalan berkeliling kampung, dan kumpul bersama tetangga dan teman-temanku.

“Kebetulan aku lulusan Harvard dan bisa membantumu. Kurasa, kau harus lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaanmu, beli perahu yang lebih besar, misalnya. Dengan perahu itu kau akan lebih banyak menjual ikan dan akan bisa membeli perahu yang lain, dan pada akhirnya kau benar-benar punya kapal penangkap ikan. Daripada menjual ikan kepada orang-orang kampung, akan lebih baik kalau kau menjualnya ke pabrik sarden, dan suatu saat nanti kau mungkin akan punya pabrik sendiri. Kau harus meninggalkan tempat ini dan pergi ke kota, dan setelah itu pergi ke kota yang lebih besar atau ke ibu kota dan memulai mendirikan perusahaanmu sendiri.”

“Tapi, berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk itu?”

“15 – 20 tahun.”

“Lalu apa setelah itu?”

“Nah, inilah bagian terbaiknya. Ketika waktunya tiba, kau akan menjual saham perusahaanmu kepada publik, dan kamu akan menjadi sangat kaya. Kau akan punya uang miliaran!”

“Miliaran, trus apa setelah itu?”

“Kau akan pensiun dengan tenang. Tinggal di rumah dekat pantai dimana kau bisa bersantai, memancing ikan, bermain dengan anak dan istri, jalan-jalan berkeliling kampung setiap sore dan kau bisa kumpul bersama teman-temanmu.”

Mendengar jawaban si pengusaha, sang nelayan hanya tersenyum. Dia berkata, “Lalu, apa yang kaupikir sedang kulakukan sekarang?”

Sang pengusaha tahu maksud nelaya. Dia tersenyum dan berkata, “Tapi kau melupakan sesuatu, Kawan.”

“Apa itu?”

“Kau memiliki potensi untuk menjadi besar, tapi kau lebih mementingkan diri sendiri dan keluargamu. Jika kau pergi ke dunia luar, maka kau akan melihat banyak orang membutuhkan bantuan orang sepertimu. Bahkan banyak nelayan menderita karena ulah tengkulak. Seandainya kau mau membuka mata untuk membantu mereka. Ngomong-ngomong, kau sudah naik haji?”

“Belum.”

“Kautahu, naik haji membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan kau tidak bisa mengandalkan dari hasil penjualan ikanmu.”

“Aku paham maksudmu. Kurasa, aku memang egois. Terima kasih atas nasehatmu.”

* * *

 

Iklan

Tentang Ali Reza

Cool, Calm, and Confidence
Pos ini dipublikasikan di Serba-Serbi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s