Inikah Agama Yang Sempurna Itu?

 

Saya menulis ini setelah membaca Islam Digest di koran Republika hari ini tentang Wajah Afrika Di Tangan Islam dan Barat.

Bagi Barat Klasik, orang Afrika sering kali tidak dipandangan sebagai manusia. Antroplog memperlakukan mereka sebagai spesimen ras dengan mengukur volume otak, postur tubuh, kerangka, dan mencoba membuktikan superiroritas kulit putih. Orang2 Afrika dipandang mengalami evolusi tertinggal dibanding Eropa.

250px-great_mosque_of_kairouan_panorama_-_grande_mosquc3a9e_de_kairouan_panorama1

Masjid Kairouan, dibangun 670M

Berbeda dengan Islam yang memandang bahwa semua manusia sama, kecuali taqwa-nya. Islam masuk ke Afrika sejak khalifah Umar R.A. Sejak masuknya islam, banyak berdiri sekolah-sekolah di Afrika dan pusat-pusat ilmu pengetahuan.

Hal yang sama telah terjadi pada saat ini kepada agama islam. Citra baik islam selama ratusan tahun sengaja dikuburkan demi kelangsungan hidup hedonisme. Citra buruk dimunculkan di rumah-rumah kepada anak-anak mereka dan disalurkan melalui media. Bahkan perang salib dimunculkan dalam versi terbalik. Saya ingat bagaimana nama Saladin dimunculkan sebagai penjahat di film anak-anak.

Usaha mereka berhasil, dan islam pun menjadi tertuduh.

Tapi tampaknya itu tidak akan berlangsung lama. Orang-orang yang tidak tahu menahu mulai jenuh menuduh islam sebagai teroris atau sebagai maling sandal atau identik dengan kemiskinan. Mereka ingin lepas dari dongeng barat yang dituturkan lewat mulut orang tua mereka atau orang-orang yang dianggap bijak. Mereka mulai membuka qur’an dan mengatakan: “Oh, islam memiliki nabi yang sama dengan kami. Lalu kenapa harus memusuhi mereka?”

Dan ketika mereka membuka al-qur’an lebih dalam lagi, mereka menemukan konsep ketuhanan yang selama ini hilang. Ketika mereka sebelumnya melihat tuhan dalam bentuk seperti yang mereka pikirkan, ternyata tuhan tidak seperti itu. Tidak ada yang bisa membayangkan bentuk tuhan, tidak akan. Tuhan memang berwujud, tapi tidak sama dengan makhluknya. Tuhan itu tidak bergantung pada siapapun. Tuhan tidak punya anak dan tidak pula punya orang tua.

Kemudian mereka bertanya-tanya lagi tentang aturan dan tata cara ibadah dalam islam. Dan setelah mendapatkan jawaban, mereka yang tadinya menganggap bahwa islam itu berat karena penuh aturan dan hukum, berbalik berpikir bahwa aturan itulah sebetulnya dibutuhkan. Islam sangat konsekuen dengan baik-tidak baik, boleh-tidak, halal-haram, dsb. Lalu hebatnya, ada hitungan ganjaran dalam berbuat baik atau berbuat jahat, sesuatu yang terkadang luput oleh orang islam itu sendiri. Islam juga sangat jelas menggambarkan hadiah utama dari semua perbuatan manusia di dunia, yaitu surga dan neraka. Jadi, siapa yang punya gambaran lebih baik tentang hidup setelah mati selain islam?

Selanjutnya, mereka mulai berpikir ulang tentang sejarah islam yang didapat dari orang tua mereka. Mereka mulai mencari tahu tentang Muhammad SAW dari sumber yang benar. Awalnya mereka tahu bahwa Muhammad SAW juga mengakui nabi-nabi sebelumnya, bahkan Muhammad SAW merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim dengan garis keturunan Ismail. Lalu, mereka mendapatkan akhlak (perilaku) Muhammad SAW yang sebenarnya, yang tidak dapat dipungkiri bahwa Muhammad SAW adalah seorang yang amanah, dipercaya, bukan pembohong, dan bukan fedopilis. Mereka juga tahu bahwa Muhammad SAW telah melalui peperangan yang banyak, tapi beliau bukanlah penggemar perang. Muhammad SAW adalah nabi yang menyuruh umatnya berbakti kepada orang tua, terutama Ibu. Bahkan Ibu mendapat tempat tiga kali di atas Ayah. Muhammad SAW mengajarkan untuk mengasihi anak yatim dan fakir miskin.

Rupanya cerita Muhammad SAW membawa mereka pada kisah para sahabatnya; dimulai dari Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib sampai kepada Umar bin Abdul Aziz. Gambaran kehidupan mereka jauh dari legenda Roma atau Yunani yang mereka bangga-banggakan. Ketika pasukan Umar bin Khattab menaklukan pasukan Persia dan Romawi, Umar masihlah seorang yang sederhana, yang bergantian naik keledai dengan pembantunya. Ternyata cerita orang-orang hebat itu bukanlah dongeng karena diriwayatkan dengan berurutan dan dipercaya hingga sampai kepada orang yang pernah hidup sejaman dengan mereka.

scholars

Mereka pun ingin tahu sejarah islam di dunia lebih dalam, tentang bagaimana para pelajar muslim berbagi ilmu kimia, matematika, astronomi, kedokteran, ilmu sosial, dsb. Mereka terheran-heran ketika islam malah mewajibkan umatnya menuntut ilmu ; sangat berbeda sekali dengan peristiwa Galileo. Mereka bahkan menemukan islam sangat menekankan tentang kebersihan. Seolah tidak percaya, bagaimana bisa ada agama mengajarkan cara buang air kecil/besar dan cara membersihkannya. Bagaimana mungkin hal sekecil itu diatur? Dan bukan hanya itu, islam mengatur cara tidur, berhubungan suami-istri, makan dan minum, menuntuk ilmu, berpakaian, berumah tangga, bertetangga, bernegara, berbicara, bersikap kepada orang tua, berpolitik, ekonomi, ……

Mereka pun terdiam dan termenung, dan bertanya dalam hati:

“Inikah agama yang sempurna itu?”

 

Iklan

Tentang Ali Reza

Cool, Calm, and Confidence
Pos ini dipublikasikan di Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s