Senin Masih Senin

 

Assalamu’alaikum,

Pagi all, yang gak bangun pagi gak selamat. Lho? Maksudnya kalau bangunnya siang jadi bukan selamat pagi, tapi selamat siang. Hehe.

Hari Senin, sama seperti hari-hari yang lain, huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Tapi perbedaannya hanya di pikiran. Nah, saya bisa tebak apa yang ada di pikiran kamu tentang hari Senin. Ingat ini bukan sulap.

Kamu pasti membayangkan macet, macet, macet, rutinitas kerja, upacara di sekolah, …. dan mostly kita berpikir negatif tentang hari Senin, dan biasanya pikiran itu sulit diubah karena sudah ada dalam alam pikiran bahwa sadar kita.

Tapi waiit, jangan nunggu akhir pekan untuk berpikir positif. Terlalu lama. Kamu nggak mau kan tiba-tiba mati dalam keadaan nggak bahagia?

Kok sekarang ngomong mati sih?

Kenapa nggak? Siapa yang tahu kapan matinya.

Trus gimana dong?

Ya, bahagia aja sekarang. Tinggal bilang kamu bahagia. Matiin tuh pikiran negatif dan unhappy di hari Senin dan di hari-hari lainnya. Toh, kalau kita merasa sebal dengan hari Senin tetap aja nggak akan merubah kemacetan. Jadi,  mending hepi aja.

Gimana caranya?

Jujur, susah juga sih ngomongin s0lusinya dan mungkin kamu berpikir lebih mudah ngomong ketimbang prakteknya. (Eeeit mulai mikir negatif lagi).

Sebenarnya kebahagiaan itu dimulai sejak bangun pagi, sholat subuh di masjid, sholat sunat sebelum sholat masjid, dan melakukan hal-hal yang membahagiakan diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai.

Jujur, pagi ini saya pusing pas bangun dan masih pusing waktu nulis ini. Tapi saya coba membahagiakan diri sendiri, setidaknya untuk kebahagiaan nanti (akhirat). Caranya: Pertama, saya coba tidak berpikiran negatif kepada Allah. Kedua, dengan tidak berpikiran negatif pada diri sendiri.

Berpikiran negatif kepada Allah itu misalnya menganggap sholat subuh itu berat.

Kok bisa?

Begini, seandainya kamu punya dua orang karyawan, yang satu kerjanya malas-malasan sementara yang satu rajin. Mana yang kamu pilih buat dikasih gaji lebih tinggi? Tentu yang rajin, bukan. Bagaimana kita bisa bahagia kalau kita selalu berpikiran negatif kepada Allah.

Berpikiran negatif tentang diri sendiri itu artinya menganggap remah diri kita, seperti menghadapi macet dengan wajah cemberut. Masa sama macet aja kalah, hehe.

Satu hal lagi supaya kita berpikiran positif atau merasa bahagia yaitu dengan membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

Coba saja.

Wassalamu’alaikum.

 

 

Iklan

Tentang Ali Reza

Cool, Calm, and Confidence
Pos ini dipublikasikan di Serba-Serbi dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s