Dari Warren Harding Error ke Jokowi Error

 

Konser Salam 2 Jari

Jokowi memang menjadi sosok yang layak memperoleh perhatian. Dengan tubuh kurus, penampilan sederhana, dan tempat asalnya yang dikenal sebagai tempatnya orang-orang ramah, membuat siapa pun akan membenarkan pemakaian kata yang lebih hebat daripada sederhana, sehingga pada masa pemilu, kata seperti “pemimpin hebat” sering digunakan untuk menggambarkannya. Kesantunannya pada orang lain menunjukkan keramahannya yang tulus kepada sesama. Kesukaannya tampil dengan baju putih dan celana panjang hitam, tanpa aksesoris yang terlihat mahal mencerminkan kesadarannya tentang selera berbusana yang berbeda dari para politikus lain.

Pada detik itulah, ketika dia dilantik menjadi presiden, mata dunia langsung tertuju pada Indonesia yang kemudian terbukti mengubah sejarah Indonesia. Dia akan menjadi seorang presiden hebat. Bahkan Time menulis dalam sampulnya sebagai ‘A New Hope’.

Sebelumnya tidak ada yang mengenal Jokowi jauh sebelum kasus penggrebekan teroris di Solo atau mobil Esemka. Namun setelah itu perlahan orang semakin tahu sosoknya yang lebih sering muncul di TV berkeliling dengan sepeda dan semangatnya membawa ‘mobil masa depan bangsa’ ke Jakarta. Pada 2012 dia resmi menjadi gubernur Jakarta. Gebrakannya dikabarkan detik demi detik seolah bangsa ini tidak boleh ketinggalan beritanya. Media memberikan pujian setinggi langit ketika dia melantik pejabat di pasar atau melakukan lelang jabatan. Rakyat dibuai dengan berita-berita ekslusif sehingga membuat persoalan ibu kota tampak kecil. Bahkan ketika nama Jokowi mencuat sebagai calon presiden, mereka tidak usah lagi berpikir bagaimana Jokowi memenuhi janjinya pada Jakarta. Toh Jokowi menganggap akan lebih mudah menyelesaikan masalah Jakarta kalau dia sudah jadi presiden.

Jokowi bisa saja menang dengan tenang dan selisih yang cukup besar jika mau bersabar menunggu pemilihan presiden 2019. Pada awalnya dia membantah mencalonkan diri pada pemilu 2014, tapi dia menelan ludahnya sendiri meskipun dengan dalih dicalonkan oleh Megawati. Tapi media tidak pernah melihat Jokowi sebagai orang yang tidak menyelesaikan masalah. Kasus TransJakarta sama sekali tidak menyentuh namanya, penyerapan anggaran yang rendah tidak pernah jadi masalah, kemacetan dan banjir …. selamat tinggal sudah.

Dan sekali lagi, media menjadi motor kemenangannya. Media juga yang mengubah Yusuf Kalla yang tadinya menganggap Jokowi bisa menghancurkan bangsa jika jadi presiden menjadi berbalik mendukungnya. Barangkali karena alasan sama-sama menelan ludah sendiri mereka jadi cocok. Pesta kemenangan Jokowi-JK seolah menjadi kemenangan bangsa, euforia itu terus berlangsung hingga kini meskipun pesertanya sudah berkurang. Tapi Jokowi tidak akan pernah kehilangan pamornya selama media ada di belakangnya, bahkan ketika satu per satu janji-janji kampanye menguap begitu saja.

Jokowi sangat berbeda dengan rivalnya, Prabowo. Latar belakang Prabowo sebagai putra dari ekonom terpandang dan seorang perwira tinggi dengan berbagai prestasi tenggelam oleh pemberitaan buruk karir militernya. Sementara, Jokowi, dengan latar belakang yang masih simpang siur, dengan puluhan miliar kekayaannya, maupun kiprah bisnis anaknya yang masih berhubungan dengan Luhut berhasil disembunyikan media sehingga yang terlihat hanyalah kesederhanaan dan martabak warna-warni.

Perlu diketahui juga bahwa para pemilih mereka juga datang dari tingkat pendidikan berbeda. Pemilih Prabowo rata-rata memiliki pendidikan yang lebih tinggi daripada pemilih Jokowi, yang mana seharusnya bisa dinilai bahwa mereka memilih Prabowo- dengan segala pemberitaan buruk tentang dirinya – setelah melalui penghitungan matang. Bandingkan dengan rata-rata pemilih Jokowi yang memilih berdasarkan alasan yang sangat sederhana: merakyat dan sederhana.

Kabinet Kerja

Kerja awal Jokowi sebagai presiden tampak meyakinkan ketika semua calon menteri yang dipilih mesti lewat seleksi KPK, dan setelah itu dia menularkan semangat sederhananya dengan menyuruh semua menteri memakai seragam putih saat diperkenalkan. Dan simbol pun masih menjadi menjadi andalan Jokowi ketika menamakan kabinetnya sebagai Kabinet Kerja. Bagi Jokowi, dengan simbol-lah masalah akan terpecahkan; dengan simbol dia dan kabinetnya terlihat bekerja. Kita tentu masih ingat kunjungannya ke lokasi kebakaran hutan, tanpa masker, yang mengisyaratkan bahwa masalah kebakaran hutan sudah selesai. Begitu juga simbol yang ditunjukkan sebagai ‘Tim Transisi atau ‘Srikandi’ dalam seleksi capim KPK. Simbol-simbol lain disebarkan dalam bentuk hastag dan meme, sehingga pantaslah Jokowi menyandang status Presiden Republik Sosmed.

Penggusuran Kampung Pulo

Jokowi, kalau tidak ingin dibilang tidak cerdas, adalah sosok yang terlanjur kecebur. Indonesia dan Solo adalah sesuatu yang tidak bisa dibandingkan. Dia bahkan banyak meninggalkan banyak lubang di Jakarta, yang kalau tidak dapat dukungan politis dan diback-up media maka dia akan terjerat berbagai kasus hukum. Ketidakmampuan berbahasa Inggris, peragu dan plin-plan, ‘I don’t read what I signed’, menyalahkan orang lain, kabinet obesitas, ketidakmampuan memilih menteri hingga bagi-bagi jabatan merupakan sebagian kecil kelemahannya yang terkuak. Jadi tidak heran jika saat ini harga kebutuhan pokok melambung tinggi, hutang luar negeri terus bertambah, peningkatan pengangguran dan kemiskinan, politik balas budi, kurs tukar rupiah tidak stabil, kegaduhan dalam kabinet, kebakaran hutan, tidak jelasnya hukum,  rusaknya sepak bola, dsb.

Dia mungkin beruntung masih didukung konglomerat media dan para pendukung setianya yang setiap detik memantau pergerakan media sosial. Mereka bahkan masih bisa membalikkan kebenaran dan mengubah keputusan hukum dengan opini media massa, sehingga sebagian masyarakat masih menganggap Jokowi masih seperti dulu: merakyat dan sederhana. Tapi entah berapa lama lagi.

Kasus Jokowi ini seperti yang pernah ditulis Malcom Gladwell dalam bukunya ‘Blink’ sebagai Warren Harding Error, dimana rakyat Amerika pernah tertipu dengan ketampanan Warren Harding yang mengantarnya menjadi presiden. Tapi untungnya Harding hanya meduduki jabatan itu selama dua tahun sampai meninggal tiba-tiba karena stroke. Kebanyakan sejarawan setuju, bahwa Harding salah satu presiden sangat buruk dalam sejarah Amerika.

Lalu bagaimana dengan Jokowi?

Apa Kabal Lakyat?

 

Iklan

Tentang Ali Reza

Cool, Calm, and Confidence
Pos ini dipublikasikan di Politik dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s