Filosofi Kopi Tanpa Filosofi

filosofi-kopi-diputar-di-taiwan

Saya menyempatkan diri nonton Filosofi Kopi di malam tahun baru yang ditayangkan SCTV. Sebenarnya saya enggan mengingat sering ‘trauma’ nonton film Indonesia. Yang saya maksud trauma adalah kekecewaan besar sehingga saya nggak mau nonton film Indonesia lagi.

Bukan tanpa alasan saya bilang begitu. Mulai dari Sang Pencerah, Ketika Cinta Bertasbih, Ainun & Habibie, sampai Tenggelamnya Kapal van Der Wick sama sekali tidak ada yang berkesan. Bahkan, saat orang-orang memuji Tenggelamnya Kapal van Der Wick, saya mengkritiknya di Kompasiana: disini dan disini, dan saya menemukan kritik bagus disini.

Filosofi Kopi tidak jauh beda dengan film-film tadi. Sebenarnya lima belas menit pertama saya mau berhenti nonton, ganti chanel atau buka laptop, tapi saya coba ikutin lebih lama. Sayangnya, saya hanya bertahan kurang dari satu jam (ngantuk).

Ketidaknyamanan paling mencolok adalah sinematografi. Kamera tidak fokus pada dua orang yang sedang bicara (atau salah satu), dan malah nge-shoot blank spot di antara mereka, atau terhalang rak.

Hello? Ini bukan film tahun 80’an, bray.

Saya tidak membaca novelnya, tapi setidaknya nama Filosofi untuk sebuah kafe tidak cocok, terlalu berlebihan. Mungkin berhasil pada novel, tapi tidak dalam film. Sah-sah saja memberi nama beda pada kafenya di film selama tidak merusak jalan cerita. Skenario juga seperti ditulis oleh amatiran. Karena saya tidak hapal dialognya maka saya mengutip dari minumkopi.com.

Yang paling mengganggu tentu adalah dialog yang terkesan dipaksakan. Seperti saat Jody mendatangi kampung halaman Ben. Mereka berdua ngopi bareng. Lantas suasana syahdu. Jody merayu Ben untuk kembali ke Jakarta.

“Gue baru sadar, kita ini kayak kepala dan kaki (atau hati? Saya lupa). Tanpa lu, gue gak lengkap,” kata Jody.

Ugh! Ini sebenarnya sangat aneh. Saya lelaki. Dan sama sekali tidak pernah menemui adegan dan percakapan macam ini di persahabatan antara lelaki. Apalagi mereka yang sudah bersahabat selama 18 tahun. Mungkin Jenny Jusuf sebagai penulis skenario kurang memahami kultur persahabatan lelaki ini. Ups, tapi ini sama sekali bukan seksis lho.

Persahabatan lelaki yang sudah terjalin lama biasanya malah lebih lekat dengan makian dan pisuhan. Kalau gak percaya, coba saja tanya geng lelaki yang anda kenal.

Saya juga setuju ceritanya sangat dipaksakan, dan ini sering terjadi pada kebanyakan film Indonesia. Penonton dipaksa masuk kedalam masalah, dalam hal ini hutang Filosofi Kafe dan tiba-tiba, di tengah suasana genting, sang karyawan mendapat kabar suaminya kecelakaan. Sama sekali tidak dramatis.

Saya setuju dengan minumkopi.com seputar permasalahan tokoh dan karakter yang kaku. Tapi agak berbeda menilai Ben. Ben mungkin luwes, tapi terlalu berlebihan alias norak. Mungkin itu datang dari skenario. Saya harus membandingkan karakter Ben dengan Adam Jones dalam Burnt atau Phillipe Petit dalam The Walk. Baik Burnt dan Phillipe punya ambisi dan kepercayaan diri tinggi, tapi mereka sangat meyakinkan.

Sebenarnya terlalu banyak masalah dalam Filosofi Kopi termasuk ‘kebetulan’ dan ‘gampangan’. Kebetulan lagi ada hutang, kebetulan ada orang yang datang dan menawarkan 100 juta meskipun dengan tantangan. Maksud saya, ya tidak semudah itu. Harus ada proses bagaimana sang pemberi tantangan bisa hadir di sana; Tidak ujug-ujug datang bawa solusi. Sedangkan yang saya maksud gampangan, kafenya itu lho gampang rame, gampang sepi. hahaha. Gara-gara nggak ada wifi, pelanggan pergi. Kenapa nggak dari awal sepinya? Cari permasalahan lain yang buat kafe itu sepi. Trus, kafenya gampang rame waktu ada menu baru: Ben’s Perfecto.

Coba bandingkan dengan Burnt. Adam Jones meluncurkan restorannya yang dihadiri orang-orang kelas atas. Dia sangat percaya diri, di dapur semuanya super sibuk. Tapi apa yang terjadi? Gagal! Karena Adam mau yang sempurna. Sempurna artinya sempurna, tanpa kesalahan. Sedikit kesalahan artinya tidak ada hidangan sama sekali.

Can’t Stand Me

Iklan

Tentang Ali Reza

Cool, Calm, and Confidence
Pos ini dipublikasikan di Film, Serba-Serbi dan tag , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Filosofi Kopi Tanpa Filosofi

  1. ulvi berkata:

    Saya belum nonton filmnya, tapi sudah baca bukunya. Kalo baca tulisan ini, kayaknya saya gak perlu nonton saja, daripada kecewa. 😃😃

    Suka

  2. arya berkata:

    thanks for the shout out!

    sekali lagi setuju sama Mas. Filosofi Kopi ini kayak kopi yang kebanyakan gula, rasa nya maksa.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s