Tukang Tahu Stasiun

tahu-khas-bandung

Salah satu hal yang paling saya ingat sewaktu kerja di Jakarta adalah stasiun. Kalau saya pulang dari kantor jam setengah tujuh, saya bisa naik kereta terakhir dari Stasiun Tanah Abang yang berangkat jam tujuh malam, tapi kalau lebih dari itu maka saya biasa naik bis atau naik kereta dari Stasiun Pasar Senen.

Stasiun Tanah Abang nggak jauh dari kantor, kira-kira 1 km yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki lewat Pasar Tanah Abang dan Kampung Bali. Saya biasa jalan bersama teman sekantor; dia mengambil kereta arah ke Pondok Ranji. Nah, kalau lagi jalan sama dia, saya dan dia biasa ‘molos’ lewat pagar untuk masuk ke stasiun karena dia memang nggak beli karcis. Tapi saya selalu balik ke loket untuk beli karcis.

Stasiun lumayan ramai meski malam hari dari penumpang yang ke Bekasi, Serpong, Rangkas Bitung, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada banyak pedagang kaki lima, namun di antara mereka ada pedagang yang menurut saya cukup unik. Dia adalah pedagang tahu goreng. Bukan tukang gorengan pikulan, tapi tukang goreng tahu kuning yang masaknya sambil nongkrong; kompor dan wajannya kecil yang hanya cukup untuk menggoreng satu tahu. Harga tahu-nya lima ratus perak dan dia baru masak kalau ada yang beli. Saya lupa penyajiannya apakah dengan daun pisang, kertas nasi atau piring kecil, tapi yang jelas saya selalu terseyum mengingat masa itu; nongkrong sendirian nunggu kereta sambil menikmati tahu panas.

Witness Protection

Iklan

Tentang Ali Reza

Cool, Calm, and Confidence
Pos ini dipublikasikan di Serba-Serbi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s