Apa Yang Bisa Kita Lakukan Dengan Rp 76 T?

Kamis kemarin Jokowi melakukan groundbreaking pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Ini kali kedua dia melakukan groundbreaking setelah proyek sebelumnya ketika masih menjabat sebagai Gubernur Jakarta mangkrak. Dia seperti biasa optimis proyek seharga 76 triliun ini akan selesai pada 2019, dan dipastikan perjalanan Jakarta-Bandung akan lebih efisien; bisa ditempuh dalam waktu setengah jam dengan biaya ‘hanya’ 250 ribu.

Hmm, efisien ya?

Tapi saya tidak ingin membahas masalah itu, tidak juga masalah amdal dan pembiayaannya. Saya hanya ingin membayangkan Indonesia di masa depan jika 76 triliun tersebut dikelola orang-orang di bawah ini:

Yohanes Surya

“Carikan saya anak Papua terbodoh, saya akan latih.” – Prof. Surya

pic_01

Bukan omong kosong beliau berkata demikian karena Beliau sudah membuktikannya bagaimana anak muda Papua bisa berprestasi dalam Asian Science and Mathematics Olympiad for Primary School. Tahun lalu, salah satu anak bangsa bernama Adnan Abdurrahman Syukri dari desa Pandeglang Banten berhasil meraih 2 medali emas dalam APCYS (Asia Pacific Conference for Young Scientist) Malaysia Sept 2015, suatu lomba karya ilmiah dan presentasi dalam bidang sains tingkat SMA Asia-Pasifik.

Saya pikir beliau tidak memerlukan sebanyak itu, tapi kita bisa bayangkan pusat studi yang akan dibangun di tiap daerah di Indonesia bisa menghasilkan ribuan ilmuwan.

Mungkin kamu bertanya, apa yang akan dilakukan kalau bangsa kita sudah memiliki ribuan ilmuwan?

Kita lanjut ke orang kedua.

Kita pernah dikejutkan keberhasilan Yogi Ahmad Erlangga memecahkan rumus persamaan matematika Hemholtz yang katanya  selama 30 tahun terakhir, tak ada yang berhasil memecahkannya. Persamaan matematika Hemholtz jauh lebih hebat tongkat Harry Potter karena melalui persamaan ini perusahaan minyak bisa seratus kali lebih cepat dalam melakukan pencarian minyak bila dibandingkan dengan sebelumnya. Dan bukan hanya itu, persamaan ini juga berguna untuk radar, penerbangan, kapal selam, dan industri lainnya yang berkaitan dengan gelombang elektromagnetik.

1345910409

‘’Saya pun masih memiliki obsesi pribadi. Keinginan saya adalah ingin melakukan penelitian tentang pesawat terbang yang menjadi spesialisasinya Aeronotika dan Astronotika, perminyakan, dan biomekanik,’’ kata pemenang penghargaan VNO-NCW Scholarship dari Dutch Chamber of Commerce ini.

Apa yang terjadi jika DR. Yogi bisa berkolaborasi dengan ilmuwan yang satu ini:

Warsito Purwo Taruno.

Warsito adalah salah satu dari “50 Tokoh” Revolusi Kaum Muda (Gatra, Edisi Khusus 2003), “10 yang Mengubah Indonesia” versi majalah Tempo (Edisi Khusus Akhir Tahun 2006) dan juga terpilih menjadi salah satu dari “100 Tokoh Kebangkitan Indonesia” Versi Majalah Gatra (Mei 2008).

Di dunia akademisi Internasional, Warsito dikenal sebagai pioneer dalam teknologi tomografi, yaitu teknologi untuk memindai berbagai macam objek dari tubuh manusia, proses kimia, industri perminyakan, reactor nuklir hinga perut bumi.

scan20otak

Penemuannya yang paling spektakuler adalah tomografi volumetric 4D yang dipatenkan di Amerika dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Teknologi temuannya telah digunakan oleh NASA (Lembaga Antarikas Amerika Serikat) untuk memindai obyek dielektrika pada pesawat ulang-alik selama misi ke antariksa.

Menurut jurnal yang diterbitkan oleh American Chemistry Society, teknologi temuan Dr. Warsito diperkirakan akan mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi berbagai bidang dari energi, proses kimia , kedokteran hingga nano teknologi. Saat ini beliau mengembangkan Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) Edwar Technology, pusat riset dan produksi sistem tomografi 4D yang berpusat di Tangerang, Banten. Penemuannya ECCT (Electrical Capacitive Cancer Therapy) bahkan sudah diterapkan di klinik di Jepang.

Jangan lupakan Ricky Elson.

bigpicture2

Beliau adalah seorang teknokrat yang setidaknya 14 penemuannya di bidang teori motor listrik sudah dipatenkan di Jepang. Karirnya sangat cemerlang dengan menduduki posisi di sebuah perusahaan di Jepang. Tapi rupanya ada kebahagiaan lain di tanah air. Dia kembali untuk mengembangkan proyek mobil listrik nasional. Kita semua tahu akhir cerita tentang proyek tersebut, tapi Ricky punya alasan lain untuk terus berkarya. Dia dan kawan-kawan Lentera Angin Nusantara mengembangkan daerah Ciheras dengan riset listrik bertenaga anginnya dan pemberdayaan masyarakat dalam berkebun, perikanan dan wirausaha. Secara bergerilya, beliau memberikan kuliah di berbagai daerah beserta penerapannya. Hebatnya, komunitas tersebut dibangun dengan biaya swadaya dan kerja keras bersama.

Akhirnya kita perlu pemimpin untuk mengelola sumber daya, dan saya yakin dia adalah orangnya.

Nurdin Abdullah sama seperti Ricky dan Warsito, punya karir cemerlang di Jepang, namun bedanya, beliau memilih berkontribusi kepada bangsa ini dengan menjadi Bupati di Bantaeng. Beliau satu-satunya Bupati bergelar Profesor dan seorang guru besar di Universitas Hassanudin.

bupati-bantaeng-nurdin-abdullah-_150428203639-695

Dahulu, Bantaeng hanya dipandang sebelah mata. Orang-orang yang akan bergerak menuju enam kabupaten di sisi selatan Sulawesi Selatan ini hanya mampir sejenak atau bahkan melintas begitu saja. Sepertinya tak ada hal menarik untuk disinggahi. Namun, kini Bantaeng berubah menjadi destinasi, bukan lagi tempat transit.

Kini Bantaeng memiliki sejumlah ikon yang membuatnya menonjol dibanding daerah-daerah lain di Sulsel. Contohnya, tak banyak yang menyangka jika berbagai tumbuhan seperti stroberi, apel, durian bisa tumbuh subur di pegunungan Bantaeng. Juga tak pernah terbayangkan jika di daerah seluas 395,93 km persegi ini bisa menjadi penghasil benih unggul yang pada akhirnya menaikkan tingkat ekonomi masyarakatnya terutama petani.

Nama Nurdin Abdullah tidak tertulis di Time atau media terkemukan dunia, tapi dunia sudah tahu pekerjaannya. Untuk tahu lebih banyak, silahkan googling nama Nurdin Abdullah atau Bantaeng dan prestasinya.

Dan bukan bermaksud mengecilkan Jokowi, tapi Nurdin Abdullah selalu menyelesaikan pekerjaannya. Dia adalah Mr. Solution, bukan Mr. Unfinished Work.

Hmm, apa jadinya Indonesia seandainya uang Rp 76 triliun dikelola oleh orang-orang seperti mereka?

( YAWN )

Iklan

Tentang Ali Reza

Cool, Calm, and Confidence
Pos ini dipublikasikan di Serba-Serbi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s