Surga Yang Tak Dirindukan, Sebuah Kritik

raih-rekor-film-e28098surga-yang-tak-dirindukane28099-capai-246-ribu-penonton-fedi-nuril-sejarah-baru

 

Saya terpaksa nonton film ini untuk menjawab tantangan sang penulis novelnya di grup FB untuk menunjukkan kesalahan dalam film ini.

Permasalahan utama pada film bergenre seperti ini (mungkin juga pada bukunya) adalah selalu ingin didramatisir dan klise. Padahal, hal seperti ini sudah jarang ditemui dalam film-film Hollywood. Aduh, lagi-lagi bandinginnya sama Hollywood. Boleh dong, malah harus, karena membandingkan sesuatu itu akan memacu kreatifitas kita jadi lebih baik. Sesuatu yang baik harus dicontoh, bukan?

Saya ambil contoh film tentang kanker. Kita punya film Surat Kecil Untuk Tuhan yang mengharu biru. Coba bandingkan dengan Me and Earl and Dying Girl, kisah dengan tema sama namun dituturkan dengan lebih segar. Maksud saya Me and Earl dan Dying Girl lebih memperlihatkan kisah persahabatan ketimbang kanker, sehingga hanya sedikit ditemui tangisan. O ya, jangan lupa The Fault in Our Stars.

Surga Yang Tak Dirindukan mengusung idealisme agama yang membuat sang sutradara mesti berhati-hati walaupun akhirnya muncul juga kontroversi seputer posternya. Bagaimana pun juga film ini lebih baik dari Ketika Cinta Bertasbih, Filosofi Kopi, maupun Tenggelamnya Kapal van Der Wick. Beberapa dalam film ini kesalahan cukup mengganggu dan malah ada yang menurut saya cukup fatal.

  • Awal mula pertemuan Prasetya dan Arini cukup mengganggu bagi saya dan terkesan klise. Seorang anak laki-laki jatuh dari sepeda. Pras yang melihatnya langsung keluar dari mobil dan menghampirinya. Hey, itu anak cuma jatuh dari sepeda. Tinggal bantu berdiri, bilang nggak apa-apa kok, jagoan. Alih-alih anak itu malah dibawa ke mobil untuk diantar ke masjid. Tidak ada tanda-tanda dia terluka serius, bahkan dia malah tersenyum. Waduh, modus nih anak.
  • Ibunya Pras mati ditabrak mobil atau bunuh diri?

Sudah jelas ibunya Pras mati ditabrak mobil karena jalannya nggak hati-hati. Tapi Pras bilang ke Mei bahwa ibunya mati bunuh diri. Pras bohong?

  • Adegan yang paling tidak bisa diterima adalah tentu saja menyelamatkan perempuan yang bunuh diri dengan berkata, “Aku akan menikahimu!”

So, gimana seandainya yang mau bunuh diri itu bukan Raline Shah (Meirose)? Gimana kalau perempuan itu gemuk dan jelek. Akankah Pras berkata, “Aku akan menikahimu!” Atau, bagaimana jika Meirose berkata, “Eh siapa lo? Gak ngaca lo mau nikahin gue?” Maksud saya, carilah cara lain yang lebih alami supaya Pras menikah dengan Meirose.

  • Dan sebelumnya adegan bunuh diri itu, saya penasaran darimana Pras tahu Meirose ada di atap rumah sakit. Saya lihat Meirose baik-baik saja untuk seseorang yang baru jatuh ke jurang dan terpaksa melahirkan. Tidak juga ada satpam atau orang lain?
  • Adegan Pras waktu menyelamatkan Meirose saya ras klise banget …. Mirip Titanic.
  • Lalu, sebelum kecelakaan tadi ketika Pras pergi ke Kulon Progo melewati hutan dan tempat sepi, dia menemukan mobil yang mendahuluinya jatuh ke jurang. Jarak antara mobil disalip dengan jatuh ke jurang lumayan jauh karena waktu menyalip itu masih ada orang lain, tapi di hutan benar-benar sepi. Mobil jatuh ke jurang terlihat kecuali asap yang bisa dikira sebagai kabut. Aneh rasanya kalau Pras bisa tahu ada masalah di situ ke jurang. Seharusnya dibuat nabrak pohon aja.
  • Saya juga bertanya-tanya apakah di desa itu ada rumah sakit bagus dan modern? Masih ingat operating theater untuk ruang operasi? Kenapa nggak di Puskesmas atau RSUD?
  • Tentu saja adegan perempuan kabur dengan gaun pengantin itu juga sangat klise.
  • Masalah penamaan bayi yang baru dilahirkan Mei: Akbar Muhammad. Dalam islam bayi biasa dinamakan sewaktu akikah atau 7 hari setelah kelahiran. Hanya yang jadi masalah apakah Pras tahu agama Meirose sehingga berani menamakannya dengan nama islam.
  • Syahadat Meirose di rumah sakit itu untuk masuk islam atau menikah?
  • Kedatangan istri dan anak lain ayahnya Arini pada saat dia meninggal menjadi sebuah kebetulan pelengkap penderitaan ketiga tokoh.
  • Saya tidak terganggu dengan munculnya iklan, tapi terganggu dengan kebetulan yang tidak perlu seperti sepeda Polygon.
  • Salah satu yang paling fatal datang dari ucapan Arini kepada Amran: “Surga yang mas Amran gambarkan memang indah, tapi bukan surga itu yang aku rindukan.”

Masya Allah, semua orang merindukan syurga akhirat, tidak ada yang lebih dirindukan dari itu. Jika Arini memang muslimah yang memahami agama tentunya tidak akan berkata seperti itu. Atau, okelah dia sedang emosi, tapi memunculkan dialog seperti itu merupakan kesalahan fatal.

  • Perubahan Meirose menjadi perempuan yang sabar begitu cepat? Bahkan dia digambarkan sebagai perempuan ideal: cantik, sabar dan pandai memasak. Bukankah seharusnya rumah tangga mereka digambarkan hambar pada mulanya? Atau, berikan karakter Meirose yang manja, pemalas atau apalah yang menonjolkan sisi negatifnya.

Kesimpulan:

Surga Yang Tak Dirindukan tidak beda dengan film Indonesia lain yang bergenre sama yang lebih mengedepankan emosi dengan mendramatisir adegan dan dialog. Cara seperti ini tentu saja kurang elegan karena memaksa penonton untuk mengikuti alur. Meski begitu cara ini selalu berhasil membuat penonton menangis.

Cerita terlalu ideal. Mungkin seperti itulah keinginan penulis novel atau penulis naskahnya. Bagi penulis novel atau film hal ini lazim dilakukan, kecuali buat Stephen King yang anti ‘merekayasa’ plot. Tapi cara seperti ini terkadang muncul celah sehingga menciptakan ketidakwajaran. Contohnya kedatangan anak dan istri lain dari ayah Arini yang menjadi penderita pelengkap ketiga tokoh. Ada juga adegan Pras menyelamatkan Mei yang sudah saya sampaikan. Bahkan penulis ingin akhir yang ideal, setidaknya cukup ideal untuk sebuah pertanyaan bagi penonton, apakah mereka mendukung poligami atau tidak.

Hal yang paling menggelikan adalah ketika mengkritik film atau novel Indonesia adalah munculnya pembelaan yang tidak perlu seperti merujuk pada 1.5 juta penonton atau pujian dari orang terkenal (endorse) yang menandakan bahwa film ini benar-benar bagus. Alamak, film Tali Pocong Perawan aja bisa tembus 1 juta lebih. Lalu apakah film yang dipuji orang terkenal secara otomatis bagus?

Masih ingat film Catatan Akhir Sekolah? Bagaimana mungkin film seperti itu bisa jadi film terbaik di festival. Atau lihat saja daftar nominasi dan pemenang Festival Film Bandung yang menurut saya sebagian besar tidak layak masuk nominasi, apalagi mendapat penghargaan.

Film lokal sudah terlalu nyaman di posisinya: yang komedi dengan komedi garingnya, yang horor dengan keseksian dan efek payah, yang drama dipenuhi isak tangis. Jadi, untuk membuat perfilman kita lebih baik, sebaiknya diadakan lomba kritik film.

Tambahan:

Penulis  Surga Yang Tak Dirindukan harus belajar dari cerpen “Seksi” karya Jumpha Lahiri. Memang temanya bukan poligami, tapi selingkuh. Tapi lihatlah bagaimana Jumpha menyampaikannya dengan elegan.

Just Another Day

Iklan

Tentang Ali Reza

Cool, Calm, and Confidence
Pos ini dipublikasikan di Film dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s